Lithuania, a drama in one act

Judul : Lithuania, a drama in one act
Penulis : Rupert Brooke
Terbit : 1915
Penerbit : Stewart kidd company

Sebuah naskah drama berjudul Lithuania, A Drama in A One Act yang diterbitkan pada tahun 1915, baru-baru ini dipentaskan di teater Salihara Pasar Minggu, Jakarta. Ketika membaca ulasan mengenai apa sebenarnya kisah yang diangkat di dalam teater tersebut, saya langsung jatuh cinta pada kisah tersebut. Karena saat itu saya tidak berkesempatan menontonnya, iseng-iseng saya mencoba mencari naskah ini dan mulai membacanya.

Kisahnya berada di seputar keluarga sangat miskin di Lithuania yang tibda-tiba kedatangan seorang tamu yang sangat kaya. Ia laki-laki kaya yang terlihat sombong. Tak pelak, begitu melihat uang yang dibawa di dalam kopernya, keluarga tersebut berkeinginan untuk memilikinya. Ketika akhirnya sang tamu pergi tidur, mereka sekeluarga mulai menyusun untuk membuat rencana pembunuhan pada laki-laki tersebut. Sang ayah yang semula berani untuk menjadi pelaku pembunuhan akhirnya goyah. Ia tak yakin dapat menuntaskan aksinya sehingga memutuskan untuk meneguk Vodka terlebih dahulu. Meski demikian, kenyataannya ia pergi lama sekali dan belum pulang hingga akhirnya kakaknya memutuskan untuk mengambil alih tugas ayahnya.

Puncak dari kisah ini ialah ketika akhirnya sang kakak dan ibu melakukan pembunuhan pada tamu asing yang sedang tertidur. Tamu tersebut meraung memanggil ibunya ketika seorang wanita dan anak gadisnya melakukan pembunuhan. Di sini, saya melihat bahwa betapa kemiskinan mampu membuat sesorang menjadi begitu bejat! Pemuda asing tersebut akhirnya tewas di tangan dua orang miskin yang begitu menginginkan hartanya.

Beberapa waktu berikutnya, sang ayah yang akhirnya mabuk pulang ditemani oleh ayah dan anak penjual Vodka. Mereka datang dengan wajah penuh suka cita. Kejutan muncul diakhir cerita ketika fakta menunjuk jika laki-laki asing nan sombong yang baru saja datang ternyata adalah anak keluarga miskin tersebut. Ia adalah anak laki-laki yang pergi merantau dan berniat kembali untuk memberikan kejutan bagi keluarganya. Sayangnya, nasib berkata lain. Ketamakan manusia akibat kemiskinan yang berkepanjangan bahkan tak mampu menghindarinya dari maut yang datang dari keluarganya, ironis!

Rupert Brooke, sang penulis naskah, ternyata terinspirasi dari kisah nyata yang ia temukan di Lithuania. Seorang wartawan muda yang sukses ketika kembali ke kampung halamannya harus naas dibunuh keluarganya sendiri. Ketika membaca ini, tak henti-hentinya saya merenungkan betapa berbahayanya kemiskinan itu. Manusia dapat berubah menjadi beringas seketika.

Kemiskinan kadang tak kenal hati. Kisah yang diangkat oleh penulis ini merupakan satu dari sekian banyak potret kemiskinan yang terjadi di dunia.

sumber gambar dari sini