#9 Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe

aristotle and dante

Judul : Aristotle and Dante Discover the Secrets of the Universe
Penulis : Benjamin Alire Saenz
Penerbit : Simon & Schuster
Tahun cetakan : Februari 2012
Jenis : Ebook
ISBN : 1442408944
Rating : 5/5

I had a feeling there was something wrong with me. I guess I was a mystery even to myself.

Kisah di buku ini ialah tentang dua orang remaja laki-laki keturunan Meksiko-Amerika yang berseting di El Paso, Texas, pada tahun 1987. Aristotle selalu merasa dirinya berbeda dengan anak laki-laki yang lain. Ia tidak senang dengan teman laki-laki sebayanya yang seperti hanya berpikir tentang pesta dan gadis-gadis. Jalan pikirannya agak sedikit berbeda, mungkin lebih karena dia memang lebih pintar dibandingkan teman-teman seusianya, meskipun sebenarnya dia sama sekali tak pernah merasa dirinya tipe yang pintar. Ibunya sering khawatir dengannya karena selalu sendiri dan nampak seperti tak punya teman. Harus diakui, Angel Aristotle ‘Ari’ Mendoza memang selalu sulit memahami dirinya hingga sebelum ia bertemu dengan Dante Quintana di sebuah kolam renang saat libur musim panas. Semenjak pertemuan itu, Aristotle dan Dante pun menjadi sahabat akrab.

Aristotle memiliki kakak laki-laki yang usianya 11 tahun lebih tua darinya dan mendekam di penjara. Sepanjang lima belas tahun hidupnya, orang tua serta kedua kakak perempuannya tak pernah sekalipun bercerita tentang kakak laki-lakinya yang eksistensinya seakan-akan jauh melebihi kematian. Sementara itu, ayahnya menyimpan begitu banyak misteri mengenai masa lalunya yakni ketika mengikuti perang di Vietnam. Hidup dari ayah yang jauh ditambah dengan rahasia masa lalu kakaknya membuat Ari sulit bergaul dengan teman-temannya. Berbeda dengan Aristotle, Dante adalah kebalikan dari Ari. Ia adalah remaja ceria, ramah, dan mengetahui-segala-hal. Dante menjadi satu-satunya anak di keluarganya dan sangat mencintai kedua orang tuanya. Satu hal yang sama dari mereka satu sama lain ialah kalau mereka berdua adalah tipe penyendiri.

Buku ini memberi pesan-pesan yang baik tentang keluarga dan persahabatan. Seperti halnya remaja pada umumnya, di awal interaksi mereka lebih dipicu oleh hal-hal yang berkaitan dengan pencarian seputar identitas. Mereka sama-sama pernah mencium gadis seusia mereka, mencoba sedikit obat-obatan (drugs), dan meminum bir. Bagaimana interaksi, baik antara kedua remaja tersebut dengan para orang tua, dengan teman-teman mereka, maupun antara Aristotle dan Dante sendiri, dapat begitu mempengaruhi hidup mereka berdua.

We all fight our own private wars.

Ada satu pesan yang saya suka sekali dari buku ini. Penulis menyampaikan jika segala misteri dan ketidakjelasan seseorang pada dirinya, berawal dari ketidakberaniannya menerima dirinya apa adanya. Jika pun ada pemicu dari luar yang sempat menggoyahkan keberanian seseorang tersebut untuk mengakui dirinya sendiri, sebenarnya bukan pemicu itulah yang membuatnya menderita, tetapi lebih ke ia yang kembali lagi ‘berperang’ dengan dirinya sendiri. Tapi memang, di sini peran keluarga begitu besar sekali. Buku ini mengingatkan bahwa sekuat apapun seseorang, akan tetap sulit jika tidak ada keluarga yang mendukung. Tetapi sekali lagi, dukungan itu pun sebenarnya juga bentuk suatu penerimaan yang jujur. Jadi, menerima apapun yang terjadi pada hidup menjadi hal yang harus selalu dipelajari seumur hidup.

Buku ini bukan tipe buku remaja yang cengeng dan penuh dengan cinta segi tiga. Seperti yang sudah saya katakan sebelum ini, ada banyak pelajaran yang bisa didapat. Meski ada unsur mengenai LGBT di dalam buku ini, kurasa bagi yang anti mengenai hal ini, tidak perlu urung membacanya, bahkan perlu juga sesekali membaca ini agar dapat sedikit memahami sudut yang lain, selain itu seperti yang sebelumnya telah saya katakan, buku ini lebih menekankan unsur-unsur persahabatan dan dikeluarga. Secara keseluruhan, saya sangat menyukai buku ini. Mungkin karena saya selalu terharu setiap membaca buku ini. Apa ya yang membuat terharu? Uhm,.. mungkin karena kalimat-kalimat di buku ini sangat menyentuh, sarat emosi namun tetap indah. Selainitu, penulis benar-benar mendalami karakter dalam mencari jati diri mereka. Sejujurnya, bahkan ketika saya membaca buku ini untuk kesekian kalinya, kesan yang saya dapat selalu sama seperti ketika saya membacanya untuk pertama kalinya!

Selain itu, penulisan novel ini pun unik. Tidak seperti novel pada umumnya yang penuh dengan deskripsi, novel ini disajikan dalam bentuk dialog demi dialog. Tetapi anehnya, penyajian yang seperti ini sama sekali tidak membuat pembaca jenuh seperti ketika membaca dialog sebuah naskah drama. Dengan penyajian yang seperti ini, pembaca masih dapat menangkap deskripsi penokohan dan seting cerita dari diksi-diksi yang dituliskan oleh penulis. Saya kira ini menjadi satu lagi keunggulan novel ini.

Kenyataannya, buku ini memenangkan beberapa penghargaan bergengsi di dunia literatur. Jadi saya bukan satu-satunya yang berpikiran kalau buku ini memang bagus! ❤ Pada tahun 2013, buku ini memperoleh beberapa penghargaan seperti Lambda Literary AwardStonewall Book Award, Printz Honor, dan YALSA Honor Fiction for Young Adult. Jadi, seharusnya sudah tidak ada lagi keraguan untuk segera membaca buku ini. Selamat membaca!

#2 a tale for the time being


Judul: a tale for the time being
Penulis: Ruth Ozeki
Penerbit: Viking Adult
Jenis: E-book
Bahasa: Inggris
ISBN: 0670026638
Tahun Cetak: 2013

Setelah sekian lama tidak menulis ulasan buku di sini, kali ini saya ingin mengulas salah satu buku menarik yang saya baca di awal tahun ini. Pertama kali melihat judul buku ini saya langsung tertarik, apalagi setelah buku ini ternyata masuk dalam nominasi dalam the Booker Prize, Goodreads Choice Nominee for FictionThe Kitschies for Red Tentacle (Novel)Paris Review Best of the Best, dan National book award di tahun 2013.

Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba menemukan sebuah buku harian yang ditulis oleh seseorang yang berniat untuk mengakhiri hidupnya? Ruth, salah seorang tokoh utama di novel ini, menemukan sebuah kotak makan Hello Kitty yang tersapu hingga tiba di pantai di dekat rumahnya. Di dalam kotak makan tersebut, sebuah buku harian ditulis oleh seorang gadis Jepang berusia 16 tahun bernama Nao Yasutani. Neneknya, seorang biksu berusia 104 tahun menjadi topik sentral yang ingin ia sampaikan kepada siapapun yang menemukan buku hariannya. Setidaknya, begitulah cara Nao berusaha menahan dirinya untuk tidak mengakhiri hidupnya sebelum ia selesai menuliskan seluruh yang diketahuinya mengenai neneknya.

Akibat kebangkrutan ayahnya, Nao dan keluarganya yang semula hidup di Amerika memutuskan untuk pindah ke Jepang. Ayahnya mengalami depresi hingga membuatnya beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Selain itu sebagai murid pindahan, ternyata Nao mendapati situasi tak mengenakan ketika bersekolah. Seluruh temannya menggertak dan mengintimidasinya  hingga ia pun tidak memiliki teman seusianya. Hingga pada suatu hari, ibunya meminta Nao untuk tinggal bersama neneknya yang adalah seorang biksu berusia 104 tahun selama libur musim panas. Semenjak tinggal bersama neneknya itulah, Nao pun pelan-pelan berubah.

“A time being is someone who lives in time, and that means you, and me, and every one of us who is, or was, or ever will be.” – Nao Yasutani

A tale for the time being sebenarnya berkisah melalui sudut pandang dua orang yang memiliki kondisi dan latar belakang kehidupan berbeda. Ruth Ozeki dan Nao Yasutani dihubungkan oleh sebuah buku harian temuannya yang ditulis oleh Nao. Menurut saya, buku ini menawarkan dua sudut pandang, yakni sudut pandang Ruth dan sudut pandang Nao. Berlatar belakang di Kanada dan Tokyo dengan dimensi waktu sekarang dan tidak diketahui.  Kita bisa melihat interaksi antara penulis dan pembaca, yakni utamanya ketika Ruth sendiri begitu hanyut membaca buku harian Nao. Ia dibayangi oleh masa depan Nao setelah ia selesai menulis buku hariannya. Bagaimana pada saat yang bersamaan, ia sempat lupa bahwa apa yang ia baca mengenai Nao sesungguhnya telah menjadi masa lalu.

Where do words come from? They come from the dead. The ancient Greeks believed when you read aloud, it was actually the dead, borrowing your tongue in order to speak again

Di dalam buku ini juga dijelaskan sedikit mengenai The concept of archetype in anthropology. Ruth Ozeki yang adalah seorang novelis menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh utama di dalam bukunya. Ia menuliskan segala yang dipikirkannya serta mendiskusikannya dengan suaminya sekaan-akan ia memeng telah menemukan buku harian Nao. Apa yang ditulis oleh Nao pada akhirnya mempengaruhi makna pencarian hidup Ruth terhadap Budha. Ruth Ozeki sendiri  selain seorang novelis juga adalah seorang biksu wanita, di mana dalam bukunya, Ruth bukanlah seorang biksu. Hal ini adalah satu-satunya yang membedakan antara Ozeki dengan Ruth yang ada di dalam buku.

Buku ini sangat bagus dan brilian. Gaya penceritaannya pun tidak biasa. Saya merasa tulisannya cukup bergaya surealisme, yakni ketika di akhir tulisan Ruth menemukan halaman buku harian yang ditulis oleh Nao menghilang, meskipun ia yakin sebelumnya merasa masih ada tulisan di halaman tersebut. Hingga akhirnya ketika ia, entah bagaimana, memimpikan Nao dan Ayahnya hingga keesokan harinya ia menemukan kembali tulisan Nao di halaman yang sama. Siapa yang tahu, jangan-jangan mimpinya tersebut bisa mempengaruhi jalan dari kehidupan Nao?

Moksa Praja: misteri kabut berkelip

Judul : Moksa Praja; misteri kabut berkelip
Penulis : WN Setiyawan
Penerbit : Tiga Kelana
Tahun cetakan : 2010
Jenis : Paperback
ISBN : 9789790910096
Rating : 4/5

Moksa Praja, kerajaan yang hilang lenyap ditelan bumi ratusan tahun yang lalu, ternyata menyimpan keajaiban. Kabut tipis berkelip menguar di dalamnya. Memasuki para lare winih. Membuat apa yang dipikirkan mereka terwujud ! Betapa menyenangkan !! Namun, bukan untuk Pangeran Arcapada–yang masih bertanya-tanya tentang jati dirinya. Ia tidak merasakan keajaiban itu terjadi pada dirinya. Benarkan Pangeran Arcapada tak terpengaruh? Atau, ia sendiri tak menyadarinya.

~Cuplikan cover buku Moksa Praja; misteri kabut berkelip

Setidakya paragraf di atas sedikit banyak dapat merepresentasikan kisah apa sebenarnya yang diangkat di dalam karya seorang WN Setiyawan. Seorang pria kelahiran Purwokerto ini memulai debut novel pedananya dengan menciptakan sebuah cerita yang berseting di salah satu tempat di kawasan nusantara.

Kisah berawal ketika seorang bocah berusia sembilan tahun yang bernama Bagus Kenang, tengah memandangi burung-burung gaok putih yang melintasi hamparan lembah hijau yang landai. Ia merupakan seorang anak cerdas yang memiliki semangat keingintahuan yang tinggi terhadap suatu ihwal. Hingga pada suatu hari, ia harus mendapati dirinya sebagai salah seorang lara wenih, anak-anak pilihan yang dipersiapkan untuk pemerintahan kerajaan di masa kelak.

Fairy tales-dongeng sebenarnya telah sering sekali kita kenali sejak kecil. Biasanya digunakan sebagai kisah pengantar tidur yang ampuh membuat para anak terbuai dengan imajinasi berbagai keindahan. Sayangnya, dari ribuan dongeng yang malang melintang diceritakan para guru dan orang tua pada anak, jarang sekali ditemukan dongeng-dongeng yang lebih mewakili budaya Indonesia. Menurut saya, novel ini begitu menarik untuk dibaca karena terlahir dari serbuan novel-novel yang jarang sekali mengkhususkan ‘anak’ sebagai target pembacanya.

Meski tidak terlalu vital, saya melihat ada beberapa hal yang menurut saya masih perlu dilengkapi. Di antaranya seperti penetapan sebuahending, di mana adasalah satu tokohnya meninggalkan tanda tanya besar buat saya. Lalu, beberapa EYD yang ada di dalamnya masih cukup banyak yang terkesan belum di-edit. Meski tidak seluruhnya, beberapa bagian ada yang mudah untuk ditebak. Tapi secara keseluruhan, saya menyukai buku ini.

Moksa Praja; misteri kabut berkelip merupakan kisah petualangan seorang bocah dibumbui dengan sihir dan persilatan. Semuanya dikemas apik dalam wajah keindonesiaan yang asik untuk dibaca di kala santai. Alurnya mengalir dan tidak membosankan. Saya kira, siapapun dapat membaca buku ini. Bagi para orang tua yang sedang kehabisan ide dongeng pengantar tidur untuk anak tersayang, tidak ada salahnya jika membaca buku ini sebagai salah satu referensi dongeng yang bermutu. Selain ceritanya yang ringan-pas untuk anak, anak pun secara tidak langsung akan diajari mengenai beberapa problema yang dilihat dari  sudut pandang seorang Indonesia.

Jadi, bagi Anda yang menginginkan genre baru cerita anak yang mumpuni untuk dikonsumsi, buku ini layak menjadi salah satu koleksi yang menempati rak-rak buku anak Anda. Saya berharap semoga buku-buku fiksi seperti ini akan muncul lagi ke depan. Selamat membaca.

Nb: cover diambil dari sini

Tulisan lebih dulu dimuat di dalam blog ini