#8 Lapar

Judul : Lapar (Sult)
Penulis : Knut Hamsun (penulis Norwegia)
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun cetakan : 2013
Jenis : Paperback
ISBN : 9789794618509

Satu lagi buku yang luar biasa bagus yang saya baca tahun ini. Buku ini adalah sebuah novel sekaligus autobiografi penulis yang pernah mendapatkan penghargaan nobel sastra pada tahun 1920. Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1890, yakni ketika Knut Hamsun berusia 30 tahun.

Semuanya ini berawal ketika aku lapar di Cristiania

Tokoh ‘Aku’ adalah seorang yang sangat miskin, ia tak memiliki rumah, tak memiliki pakaian yang layak, serta kelaparan. Saking laparnya, ia pernah memutuskan hampir memakan benda yang cukup berharga baginya, pinsil. Meski demikian, ia adalah seorang yang selalu berpikir positif. Selama bertahun-tahun, meskipun selalu ditolak oleh penerbit, ia selalu berjuang agar tulisan-tulisannya dapat diterima oleh penerbit. Kisah berawal ketika tokoh ‘Aku’ berada dalam kondisi sangat lapar di kota Cristiania (sekarang kota ini berubah menjadi Oslo).

Yang menarik dari buku ini, tepatnya yang membuat saya terharu, Aku jjuga seorang yang jujur dan memiliki sikap layaknya seorang kesatria. Ia memberikan pakaian dan uang kepada mereka yang membutuhkan, yang ia temui. Ia tidak memakan makanan yang diberikan padanya. Kadang ada perasaan kesal, di saat-saat ketika ia memang sangat membutuhkan, ‘Aku’ bersikap terlalu kesatria hingga ia sebenarnya menghancurkan dirinya sendiri.Tubuhnya menjadi kurus, lemah, dan tak berdaya. Dibandingkan menjadi musuh masyarakat, ‘Aku’ cenderung menyalahkan Tuhan sebagai penentu jalan hidupnya. ‘Aku’ bersikap kekanakan-kanakan terhadap kehidupan. Ia terbentur oleh kenyataan jika ia pun butuh ‘makan’ untuk tetap hidup, sementara di saat yang bersamaan, ia selalu merasa yakin tulisan-tulisannya suatu hari akan mengubah hidupnya.

Buku ini menjadi salah satu buku yang saya rekomendasikan bagi yang ingin membaca sastra yang luar biasa. Kehadiran buku ini menginspirasi banyak sastrawan-sastrawan terkenal, salah satunya Franz Kafka, penulis lainnya yang sangat saya gemari. Terjemahannya mengalir dan tidak mengerutkan kening. Bagaimana ketika kita ditawarkan pada tetap mempertahankan idealisme, atau membiarkannya luntur. Semuanya pilihan ada makna positif dan negatifnya. Buku yang bagus untuk mengajari kita bahwa penderitaan itu memang perlu hadir di dalam kehidupan. Ia akan manawarkan proses pendewasaan kepada yang mengalaminya.