#13 Hembus Angin Utara

hembus angin utara

Judul : Hembus Angin Utara (Gut gegen Nordwind)
Penulis : Daniel Glattauer
Penerbit Daarbook
Tahun cetakan : Juli 2009
Jenis : Paperback
ISBN 13 : 9789791626026
Rating : 4/5

Pernahkah Anda menjalin hubungan dengan seseorang –yang sama sekali belum pernah Anda temui– secara online? Jika belum pernah, apakah Anda memiliki kenalan yang menjalani hubungan semacam ini? Tenang saja, meskipun Anda tidak memiliki teman yang memiliki hibingan unik semacam ini serta Anda masih penasaran soal hubungan seperti apa yang dapat terjalin secara online, tidak ada salahnya untuk membaca Hembus Angin Utara.

Kisah diawali ketika Emmi Rothner salah mengirim surat elektronik (surel) pemberhentian pemesanan suatu majalah. Alih-alih diterima oleh redaksi, surel tersebut justru diterima oleh seorang profesor muda yang memiliki alamat email serupa dengan alamat surel redaksi. Ya, kisah ini dimulai akibat salah kirim email. Ketika Emmi akhirnya mulai emosi karena keluhannya ke redaksi tidak pernah digubris, Leo Leike menjawab surat balasan jika selama ini Emmi salah menulis alamat surel. Benar-benar sebuah awalan yang sangat lucu. Namun menjalin hubungan jangka panjang di dunia maya pun tak akan pernah lepas dari yang namanya miskomunikasi, prasangka, hingga sakit hati. Leo dan Emmi memang menjalin hubungan satu sama lain, tetapi apakah mereka memang menjadi pasangan atau hanya saling mengirim lelucon seakan-akan mereka pasangan sungguhan? Kita tidak tahu. Kepastian mengenai hubungan mereka berdua hanya dapat ditentukan dari kesepakatan yang menjalani, bukan?

Bagi Anda saya seperti telepon seks, hanya tanpa seks dan tanpa telepon. … Dan bagi saya Anda juga semata mainan, agen kencan, dan refreshing. Saya bisa melakukan apa yang tidak saya miliki: Saya bisa mengalami langkah-langkah pertama sebuah pendekatan (tanpa mesti sungguh-sungguh mendekatkan diri). Kini kita sudah berada tinggal dua atau tiga langkah lagi dari sebuah pendekatan yang tidak boleh didekati.

Konflik di dalam cerita mulai muncul ketika hubungan yang mereka jalani telah semakin jauh dan menjadi suatu kebutuhan. Satu sama lain sama-sama tidak bisa memutuskan hubungan jangka-panjang virtual mereka. Kenyataannya, Emmi sebenarnya telah menikah sementara Leo merupakan pria yang semenjak lama tidak bisa move on dari cintanya yang terakhir. Sebagai pembaca, saya benar-benar dibuat penasaran dengan cerita ini. Satu hal yang membuat saya menikmatinya, ceritanya sangat terasa real. Kira-kira memang seperti itulah yang akan terjadi jika kita menjalin hubungan dengan orang yang sama sekali belum pernah ditemui.

Sang penulis menurut saya cukup bijak dengan menyimpan twist mengejutkan di akhir cerita. Saran saya ketika Anda membaca cerita ini, please jangan baca ending-nya dulu karena sensasinya benar-benar terasa sepanjang membaca cerita, bahkan hingga halaman terakhir. Ini bukan sekedar roman, yang menurut saya sih cukup romantis untuk menyadari seting ceritanya yang sangat kekinian.

Courtships via interwebs

Kita telah memasuki era di mana menjalin hubungan asmara sudah mungkin untuk tidak dibatasi oleh jarak dan waktu. Apa demikian yang menyebabkan terjadinya kemungkinan tersebut? Menurut saya, kehidupan kaum urban yang semakin sibuk menyebabkan mereka sulit untuk memperluas pergaulan. Sementara beberapa pekerjaan kadang memperkecil kemungkinan untuk bertemu orang baru. Jika hal itu terjadi, jalan satu-satunya untuk bersosialisasi, atau sekedar bertegur sapa dengan teman lama, ialah melalui media sosial.

Ada sebuah istilah lama yang pernah tidak sengaja saya temukan. Sebutannya ialah Cyber Love. Konon manusia memiliki kecenderungab untuk mencintai hal-hal yang sifatnya hanya bayang-bayang atau mimpi. Tidak jarang kita menangkap orang-orang yang begitu larut dalam pikiran hingga tidak jarang emosi kita pun tersentil untuk berekspresi. Barangkali karena online, maka Emmi dan Leo tidak ragu untuk menunjukkan kepada lawan berbicaranya soal siapa sebenarnya mereka. Tidak ada tirai jaim di antara keduanya.

Kemungkinan lain ternjadinya cyber love ialah karena keempat indrawi tidak dapat ikut berbagi pengalaman, hanya tampilan baik saja yang ditunjukkan ke teman berbicara. Jika halnya seperti demikian, segala kemungkinan bisa terjadi.