#23 Hiroshima: Ketika bom dijatuhkan

12834309_a34710f5-2a41-4ade-b04a-538897bb9b38_1944_2592.jpg

Judul : Hiroshima: Ketika bom dijatuhkan
Penulis : John Hersey
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 165 halaman Rating: 4/5

Sering kali kita mendengar bahwa sejarah bisa saja terulang kembali. Inilah alasan mengapa kita perlu mempelajari sejarah, yakni agar kita dapat memetik pelajaran yang diungkapkan dari pristiwa masa lalu sehingga mencegah hal buruk terulang kembali, seperti perang, wabah, kekuasaan yang berdiri di atas penindasan, serta lain sebagainya.

Salah satu hal yang paling tidak kita inginkan terjadi kembali ialah Bom Atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki. Setelah penyerangan Jepang di Pearl harbor, Amerika mencari cara untuk mengakhiri perang dengan cara yang paling efektif, namun sangat menyakitkan serta meninggalkan luka yang sangat dalam. Pada saat itu, tidak mengetahui seberapa jauh bahaya dan kerusakan yang diakibatkan oleh bom nuklir, bom pun dijatuhkan. Semenjak kejadian itu, berbagai penelitian, tulisan sejarah, berita, ditulis untuk merekam kejadian dengan harapan sejarah tidak akan kembali terulang.

Review

Cerita dibuka pada pagi hari saat sebelum bom dijatuhkan. Ledakan terdengar secara tiba-tiba. Ledakan ini bukanlah ledakan biasa. Sebagian besar orang yang berada di luar ruangan langsung meninggal akibat paparan langsung radiasi, sebagian besar lainnya terluka parah dengan gejala yang tidak biasa. Sementara itu, mereka yang selamat kebingungan bagaimana harus melakukan penyelamatan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang selamat. Tidak lama setelah kejadian, sisa-sisa bom rupanya menyulut api yang semakin lama semakin membesar dan meluas tak terhentikan, menghabisi orang-orang yang sebenarnya selamat dari bom, namun terlambat karena terjebak oleh reruntuhan bangunan.

Buku ini sebenarnya merupakan sebuah reportase yang pernah diterbitkan di New Yorker pada tahun 1946. Reportase ini ditulis oleh seorang reporter John Hersey, yang pasca kejadian langsung diminta untuk menuliskan laporan pengeboman yang terjadi. Ada kisah dari enam orang yang selamat setelah pengeboman yang ditulis oleh Hersey. Mereka berenam ialah seorang pastur, seorang dokter ahli bedah muda, seorang dokter yang sudah memiliki rumah sakit sendiri, seorang penjahit yang sudah menjanda dengan tiga anak, seorang pegawai di pabrik kaleng, dan seorang pendeta Jerman. Pengalaman keenam orang ini nantinya dinarasikan oleh Hersey yang masing-masing dibagi dalam beberapa segmen, yakni sebelum, saat, serta pasca bom dijatuhkan.

John Hersey menulis reportase ini pada awalnya bertujuan untuk membuka mata orang-orang Amerika mengenai dampak dari pengeboman atom di Jepang. Meskipun pada akhirnya perang benar-benar usai, cara yang dilakukan untuk mengakhiri peperangan sangatlah tidak manusiawi. Sebelum reportase ini diterbitkan, banyak warga Amerika yang masih belum memahami kerusakan yang diakibatkan oleh bom atom. Menurut saya, John Hersey mampu membangkitkan unsur yang paling penting dalam sebuah penulisan reportase, yakni berusaha membuat informasi yang penting menjadi menarik dan relevan. Idenya untuk menarasikan pengalaman keenam orang survivor membuat reportase ini mampu diterima oleh masyarakat kalangan umum. Terlebih lagi, mampu membangkitkan simpati orang-orang terhadap kejadian tersebut.

Setelah membaca buku ini, saya baru mengetahui kalau buku ini telah menjadi salah satu reportase terbaik yang pernah ditulis sepanjang abad dua puluh.

FEATURD IMAGE BY FEDERICO SIRONI FROM UNSPLASH