#2 Hot dudes behind the book

Kembali lagi pada parade topik bahagia di sini. Bahagia karena akan membahas soal lelaki/perempuan yang berotak menawan dan eksis di dunia perbukuan, baik sebagai pencipta karyanya, atau lain sebagainya. Tokoh beruntung yang ingin saya bahas kali ini ialah my long crush BENEDICT CUMBERBATCH.

hcHU1Wn7d

Ben dalam sesi latihan sebagai Ferdinand dalam Love’s Labor Lost (LLL), 2001

Bagi saya, Ben bukan sekedar artis yang sukses memerankan tokoh Sherlock dalam serial modern Sherlock Holmes besutan BBC. Lebih dari itu, karir Ben sesungguhnya semakin berkembang karena ia juga aktif di dalam teater. Peran pertama yang ia mainkan ialah ‘Ferdinand’, seorang raja lugu yang cenderung tolol dalam drama komedi ciptaan Shakespeare berjudul Love’s Labor Lost.  Wajar seorang artis yang lahir dari dunia teater memiliki kemampuan akting yang menawan.

Karena beberapa alasan, saya bukan penggemar Shakespeare. Hingga saat ini hanya beberapa judul yang pernah saya baca. Alasan pertama ialah karena model dari drama ialah berupa dialog. Membaca dialog drama buat saya tidak mudah karena di sana minim sekali deskripsi. Deskripsi sesekali dimasukkan untuk menggambarkan seting dan beberapa informasi tambahan. Sementara itu, emosi tokoh adalah sesuatu yang dipikirkan oleh pembaca, well pemain drama. Karena itu bagi saya mereka yang membaca drama adalah orang-orang luar biasa. Simpelnya adalah seperti ini: Jika membaca novel kita seringkali mudah terbawa emosi, maka saat membaca darama hanya orang-orang tertentu yang benar-benar bisa masuk terbawa emosi. Jadi wajar dong saya kalau semakin nge-fans sama Tuan Ben mengingat dia punya kemampuan menghayati cerita, bahkan cerita drama :p

Hal kedua ialah karena kendala bahasa. Bahasa Shakespeare sangat kuno dan…. meskipun saya bisa memahami ceritanya, bukan berarti saya bisa menikmatinya. Barangkali kalau saya punya bahasa Inggris yang lebih keren saya bisa lebih menikmati drama-dramanya. Ada masa ketika mencoba memahami Shakespeare, yang saya lakukan bukan fokus pada cerita melainkan ke arti kata-kata dalam kalimat yang digunakan Shakespeare. Jika ingin sekedar menikmati cerita-ceritanya dalam format tulisan, sebenarnya sudah ada penerbit yang khusus mereproduksi karya Shakespear dengan penggunaan bahasa yang lebih modern. Namun para penikmat Shakespear yang sesungguhnya mungkin banyak yang mengklaim bahwa keindahan karya Shakespeare nukan semata dinilai pada ceritanya, namun juga pada diksi yang plain, native, sekaligus elegan dan pretensiuns.

Secara keseluruhan, bagi saya drama dan novel ini berbanding terbalik. Jika saya lebih senang membaca novel dibandingkan menonton adaptasinya, maka di dalam drama saya lebih senang menikmati adaptasinya dibandingkan sekedar membaca dialognya.

Saya sangat menyukai pementasan drama. Ada masa ketika saya menghabiskan waktu saya menonton drama teater di youtube hingga menonton secara langsung. Karena saya hanya orang biasa yang menikmati seni, drama teater yang saya tonton tentu lebih ke drama-drama yang dipentaskan di kampus atau di jalanan ketika sedang ada aksi protes terhadap sesuatu. Lebih dari itu, saya cukup memanfaatkan ‘status kemahasiswaan’ untuk menonton 1-2 drama yang dipentaskan di Salihara.

Pengenalan teater saya ialah ketika saya dengan sok PD nya mendaftar ekstrakulikuler teater saat masih mahasiswa. Di sana saya paham soal betapa sulitnya memerankan tokoh. Perlu diketahui bahwasaat kita benar-benar berusaha masuk menjadi tokoh yang kita perankan, kita tidak akan peduli lagi dengan tatapan penonton. Belum lagi ditambah dengan dialog yang dibawakan tentu harus dihafal sama persis sesuai dengan teks-nya dan tidak boleh salah saat tampil.

Lalu di sini saya kagum dengan Tuan Ben karena dia bukan sekedar memainkan sembarang tokoh Shakespeare, tetapi memainkan tokoh utama di dalam karya-karyanya. Sudahlah, Alin lemah dihadapkan pada pemain drama, apalagi sekelas Ben.

Ben dalam Hamlet, 2014

Setelah Ben, barangkali saya akan membahas Roger Allam atau Colin Morgan 😛

FEATURED IMAGE BY BENCE BOROS FROM UNSPLASH