#7 Take-a-step Thursday: SPOILERS

season-6

This is an event blog hosted by a blogger  thistles and whistles. I took a part in her event blog since I do understand that Life is hard sometimes, however, there are always at least a reason for being grateful.

What do you think about my title there? The majority of uplifting reason I have in this past week, ehm, honestly in this entire days since April comes, is because my very favorite shows finally will be aired next week.

As we all already know, we had been heart broken last year when our most favorite character had been facing the death when he was just met the dead walkers ;A; aaaa seriouslyyy??  As if all he had been through was not enough, his heroic escape with the wildlings to his head quarter brought him to his own death!!! Hello, how come~ Why oh whyyy?  When you already watched previous seasons, you should already learn the patterns of which characters would die in the incoming seasons >__<.

These past months after  Season 5 has been aired, spoilers and many assumptions are spreading and quickly becoming the trending topics. Even as someone who doesn’t like spoilers like me, many kinds of possibilities which will be happened in Season 6 are happened to be coincidentally crossed in  my every day life. Most my friends are all excited toward the series, and so do my family. However next week, people will lose at least 0.000001% of their curiosities once the series being aired. There will be talks about the series, surely I do understand, so I think I need to carefully read entertainment news or I am going to be trapped in spoilers.

Talking about spoilers reminds me to a research briefly published in Science Daily. The research conducted by Psychology Department of University of California revealed that Spoilers does not ruin people’s enjoyment in reading. The research even stated that spoilers are even able to make people more enjoy the stories. Though the research are highly possibly true, it is your choice how you will enjoy stories. If some of you who already felt someone has ruined your enjoyment because of spoilers, uugh thats really s*cks, but hey, we are still able to enjoy their plots and the scripts, right? xD

What I am trying to say is, do not make spoilers ruin your enjoyment! Instead, make sure that you have to stay away from media and people who are too easily slipped whenever they are talking about spoilers :p xD

Pemuda yang Membakar Neraka

“Pemuda yang Membakar Neraka” or roughly translated as “A young man who burn the underworld” is one of short stories written by Candra Malik. He is an artist, a writer, as well as a Sufi figure known in Indonesia. Of the many short stories compiled in Mawar Hitam (Black Rose), I was most struck by the themes raised in his particular story titled above.

The story was told from the perspective of a teen boy, who from his childhood age, had been taught to obey the commands of religion, in this case, is salat. For the brief explanation, there are 5 pillars of Islam which are also considered mandatory by believers. The five pillars are Syahadah (Faith), Salat (Prayer), Zakat (Charity), Sawm (Fasting), and Hajj (A Pilgrimage to Mecca). When she was a child, his dad told him about a drunken young man who always disturb people around the main mosque in the area. He was famous by his clamor that he would burn hell. The tale about the drunk was very, very famous, even down from generation to generation.

Look at this eye? (noted: his other eye has already blind)  He is able to see you, yet in fact, he was actually blind. I’ve given him half a century, but he still can not see God.

I so love this story so far. The topics in this very short story is mainly about how the drunken -which later became- old man, could not even say Syahadah, tho he was so sure of the God existence. There are a lot of controversial sentences which honestly contain very deep meanings. For instances, the old man would never be able to implement the rest four, as long as he could never say syahadah. Only ignorant people who believe salat should be the way to get closer to the God. These kind of thoughts are very rare and so difficult.

Well, I did not expect myself to read this kind of books until a dear friend presented the book to me. I understand that the contents of the book are not easy reads. Everything in the book will be brow-knittingly serious. However, I found not few things that should spiritually be contemplated. This book has become one of the few short stories took spiritual themes which is caught my attention.

As for its title, it was referred to the old man’s anger of his inability to say Syahadah. He just missed the Lord that if the underworld nor heaven would only interfere his closeness with God, then he would be willing to burn both.

#2 Hot dudes behind the book

Kembali lagi pada parade topik bahagia di sini. Bahagia karena akan membahas soal lelaki/perempuan yang berotak menawan dan eksis di dunia perbukuan, baik sebagai pencipta karyanya, atau lain sebagainya. Tokoh beruntung yang ingin saya bahas kali ini ialah my long crush BENEDICT CUMBERBATCH.

hcHU1Wn7d

Ben dalam sesi latihan sebagai Ferdinand dalam Love’s Labor Lost (LLL), 2001

Bagi saya, Ben bukan sekedar artis yang sukses memerankan tokoh Sherlock dalam serial modern Sherlock Holmes besutan BBC. Lebih dari itu, karir Ben sesungguhnya semakin berkembang karena ia juga aktif di dalam teater. Peran pertama yang ia mainkan ialah ‘Ferdinand’, seorang raja lugu yang cenderung tolol dalam drama komedi ciptaan Shakespeare berjudul Love’s Labor Lost.  Wajar seorang artis yang lahir dari dunia teater memiliki kemampuan akting yang menawan.

Karena beberapa alasan, saya bukan penggemar Shakespeare. Hingga saat ini hanya beberapa judul yang pernah saya baca. Alasan pertama ialah karena model dari drama ialah berupa dialog. Membaca dialog drama buat saya tidak mudah karena di sana minim sekali deskripsi. Deskripsi sesekali dimasukkan untuk menggambarkan seting dan beberapa informasi tambahan. Sementara itu, emosi tokoh adalah sesuatu yang dipikirkan oleh pembaca, well pemain drama. Karena itu bagi saya mereka yang membaca drama adalah orang-orang luar biasa. Simpelnya adalah seperti ini: Jika membaca novel kita seringkali mudah terbawa emosi, maka saat membaca darama hanya orang-orang tertentu yang benar-benar bisa masuk terbawa emosi. Jadi wajar dong saya kalau semakin nge-fans sama Tuan Ben mengingat dia punya kemampuan menghayati cerita, bahkan cerita drama :p

Hal kedua ialah karena kendala bahasa. Bahasa Shakespeare sangat kuno dan…. meskipun saya bisa memahami ceritanya, bukan berarti saya bisa menikmatinya. Barangkali kalau saya punya bahasa Inggris yang lebih keren saya bisa lebih menikmati drama-dramanya. Ada masa ketika mencoba memahami Shakespeare, yang saya lakukan bukan fokus pada cerita melainkan ke arti kata-kata dalam kalimat yang digunakan Shakespeare. Jika ingin sekedar menikmati cerita-ceritanya dalam format tulisan, sebenarnya sudah ada penerbit yang khusus mereproduksi karya Shakespear dengan penggunaan bahasa yang lebih modern. Namun para penikmat Shakespear yang sesungguhnya mungkin banyak yang mengklaim bahwa keindahan karya Shakespeare nukan semata dinilai pada ceritanya, namun juga pada diksi yang plain, native, sekaligus elegan dan pretensiuns.

Secara keseluruhan, bagi saya drama dan novel ini berbanding terbalik. Jika saya lebih senang membaca novel dibandingkan menonton adaptasinya, maka di dalam drama saya lebih senang menikmati adaptasinya dibandingkan sekedar membaca dialognya.

Saya sangat menyukai pementasan drama. Ada masa ketika saya menghabiskan waktu saya menonton drama teater di youtube hingga menonton secara langsung. Karena saya hanya orang biasa yang menikmati seni, drama teater yang saya tonton tentu lebih ke drama-drama yang dipentaskan di kampus atau di jalanan ketika sedang ada aksi protes terhadap sesuatu. Lebih dari itu, saya cukup memanfaatkan ‘status kemahasiswaan’ untuk menonton 1-2 drama yang dipentaskan di Salihara.

Pengenalan teater saya ialah ketika saya dengan sok PD nya mendaftar ekstrakulikuler teater saat masih mahasiswa. Di sana saya paham soal betapa sulitnya memerankan tokoh. Perlu diketahui bahwasaat kita benar-benar berusaha masuk menjadi tokoh yang kita perankan, kita tidak akan peduli lagi dengan tatapan penonton. Belum lagi ditambah dengan dialog yang dibawakan tentu harus dihafal sama persis sesuai dengan teks-nya dan tidak boleh salah saat tampil.

Lalu di sini saya kagum dengan Tuan Ben karena dia bukan sekedar memainkan sembarang tokoh Shakespeare, tetapi memainkan tokoh utama di dalam karya-karyanya. Sudahlah, Alin lemah dihadapkan pada pemain drama, apalagi sekelas Ben.

Ben dalam Hamlet, 2014

Setelah Ben, barangkali saya akan membahas Roger Allam atau Colin Morgan 😛

FEATURED IMAGE BY BENCE BOROS FROM UNSPLASH

#18 Serial To All the Boys I’ve Loved Before dan Ps. I still love you

Screenshot_2015-10-22-13-38-53_1

Judul: To All the Boys I’ve Loved Before dan P.S I Still Love You
Penulis: 
Jenny Han
Penerbit:
Simon & Schuster Books for Young Readers
Jenis: 
Ebook
Rating: 
1/5

Lara Jean hidup bersama dua saudara perempuan dan ayahnya yang seorang Dokter Obgin. Ibunya telah meninggal ketika ia masih kecil. Sementara itu kakaknya, Margot, akan bersekolah di Skotlandia untuk kuliah di Universitas St. Andrews, sementara Kitty mash berusia 9 tahun. Margot memiliki pacar, Josh, yang juga adalah laki-laki yang pernah disukai Lara Jean jauh sebelum kakaknya dan Josh berpacaran. Lara Jean memiliki kebiasaan unik. Jika ia ingin melupakan perasaannya pada laki-laki yang disukainya, ia akan menuliskan seluruh perasaannya terhadap orang tersebut, memasukkannya ke dalam amplop, membubuhkan alamatnya, lalu menyimpannya rapat-rapat di kotak topi rahasia miliknya. Cerita berawal ketika suatu hari surat yang ia tulis tiba-tiba menghilang. Tidak sampai di sana, Peter, salah satu orang yang dulu pernah disukainya, menghampirinya dan menunjukkan surat yang pernah ditulis Lara Jean. Rupanya ada orang yang diam-diam mengirimkan surat-surat cintanya dahulu.

Idenya unik sekali. Surat yang ditulis seakan-akan tidak akan dibaca oleh orang yang dituju tiba-tiba dikirim tanpa sepengetahuannya. Wow. Selain itu, kovernya sangat cantik dan mengundang selera membaca. Ya, buku ini adalah buku bestseller. Entah semenjak kapan saya tidak akan menilai terlalu tinggi buku-buku berlogo bestseller. Sebagai buku remaja, buku ini adalah buku remaja yang sangat ringan, mainstream, serta yang paling penting, menghibur. Dari segi karakter, tidak ada pengembangan karakter yang signifikan. Hal yang paling tidak saya sukai dari novel ini ialah penggambaran Lara Jean sebagai remaja yang lugu, cengeng, dan sangat lemah. Selain itu untuk usia remaja 16 tahun, bagi saya Lara Jean lebih cocok berusia 12 tahun. Sepanjang cerita saya sangat terhibur dengan kemanisan hubungan percintaan remaja yang menurut saya, oke, cukup mengingatkan masa-masa remaja saya ketika baru pertama kali mengenal cinta. Sisanya, saya terhibur dengan keluguan cerita yang tidak masuk di akal.

Terlepas dari itu semua, saya paling menyukai hubungan yang dijalin antara ketiga kakak beradik ini. Margot yang dewasa dan bertanggung jawab, Lara Jean yang manis dan cengeng tapi sok tegar, dan Kitty yang tipikal anak bungsu yang manja tapi sebenarnya perhatian. Semenjak ibu mereka meninggal, Margot yang juga merupakan kakak tertua menjadi panutan bagi Lara Jean dan Katherine. Ia membagi peran tugas di rumah kepada kedua adiknya sekaligus memastikan agar ayahnya tidak perlu disibukkan oleh perintilan pekerjaan rumah. Lara Jean pun akhirnya tumbuh dengan Margot sebagai model seorang perempuan yang diimpikannya. Oleh karenanya, ketika Josh mendapatkan surat cinta yang ditulis oleh Lara Jean dahulu, Lara Jean yang terlalu lugu dan pemalu malah memutuskan untuk pura-pura pacaran dengan Peter demi meyakinkan Josh bahwa Josh hanya bagian dari masa lalunya.

Beberapa waktu lalu saya sedang tidak enak badan. Membaca buku pun rasanya sudah tidak mood. Namanya juga sedang sakit, segala mood menyenangkan yang bisa saya manfaatkan jadi hilang. Lalu dari sanalah tiba-tiba muncul keinginan membaca buku ini. Akhir dari buku pertama memang dibuat menggantung sehingga pembaca tanpa ragu akan langsung melanjutkan seri keduanya. Saking ringannya, saya bisa menyelesaikan kedua buku Jenny Han hanya  kurang dari setengah hari. Bahasa yang digunakan memang disesuaikan untuk remaja.

Beberapa waktu lalu saya melihat di etalase toko buku favorit saya kalau kedua buku ini rupanya telah dialihbahasakan. Hmm,… Kalau sekedar sebagai konsumsi bacaan remaja mungkin boleh ya, masih cukup sopan jika dibandingkan dengan konsumsi bacaan yang bisa dicari di internet secara bebas. Saya hampir tidak pernah membaca buku remaja luar negeri yang diterbitkan di Indonesia. Akibatnya saya tidak mengikuti pola buku-buku remaja yang beredar di pasaran sekarang. Pedihnya, kebanyakan buku remaja yang menurut saya bagus dan benar-benar mendidik malah tidak pernah diterjemahkan di sini #tanyakenapa.

#17 A Monster Calls

Judul: A Monster Calls
Penulis: Patrick Ness and Sioban Dowd (Conceptor)
Penerbir: Candlewick
Tahun Cetak: Mei, 2011
Jenis: Ebook
Halaman: 215 Halaman
ISBN: 1406311529
Rating: 4/5

Stories are important, the monster said. They can be more important than anything. If they carry the truth.

Conor O’Malley, seorang anak berusia 13 tahun, terus mengalami mimpi buruk semenjak ibunya mulai melakukan pengobatan rutin demi menyembuhkan penyakitnya. Pada suatu malam, Conor terbangun dari tidurnya serta mendapati ada monster yang datang dari halaman rumahnya. Monster tersebut mengambil bentuk pohon Yew. Awalnya, Conor mengira jika monster yang mendatanginya hanyalah bagian dari mimpi-mimpi buruknya. Nyatanya, monster tersebut selalu hadir secara misterius serta meninggalkan beberapa bukti-bukti ‘keberadaannya’ pada Conor. Monster datang ‘berjalan’ menghampirinya, menceritakan tiga buah cerita yang mana ritual bercerita tersebut harus ditutup oleh cerita keempat Conor yang berupa kebenaran.

A monster calls

Monster di dalam buku ini bukan monster yang sering diceritakan para orang tua, bahkan bukan yang sekedar untuk ‘menakut-nakuti’ anak-anak mereka. Monster digambarkan mirip dengan pohon Yew yang dapat berjalan.  Di beberapa mitos, pohon Yew dianggap sebagai pohon sakral yang memiliki makna lain seperti keabadian. Karena usianya yang abadi, ia sering juga dikaitkan dengan makna kebijaksanaan.

Di dalam cerita ini, monster datang karena Conor memanggilnya. Alam bawah sadar Conor membutuhkannya. Kehadiran Monster digambarkan secara fantastis, namun bisa jadi ia sebenarnya adalah bentuk dari kebenaran yang ingin diungkapkan manusia. Monster menuntut Conor untuk menceritakan kebenaran di dalam dirinya, kebenaran yang selama ini ia tampis karena merasa kebenaran tersebut jahat dan tidak masuk di akal.

In between good and bad

There is not always a good guy, nor is there always the bad one

Selesai membaca buku ini, saya hanya bisa menghela nafas berat. Buku ini cukup berhasil menguras emosi sepanjang saya membacanya. Tidak ada hal membahagiakan di dalam buku ini bukan berarti buku ini tidak bagus. A Monster Calls sempat menjadi buku favorit saya karena ceritanya yang mengharu biru, penuh misteri, dan tidak dapat ditebak. Patrick Ness mengambil ide cerita yang dibuat oleh Siobhan Dowd yang belum sempat diselesaikan karena si empunya ide terlanjur meninggal akibat kanker. Seorang teman yang pernah membaca tulisan Patrick Ness sebelumnya bilang jika cerita-cerita yang dibuat oleh beliau memang sering kali menguras emosi.

Secara umum, buku ini menceritakan soal perjalanan Conor untuk menerima kenyataan yang sedang dihadapinya. Kita sering dihadapi situasi sulit, yakni ketika kita mengetahui apa yang sedang kita alami, namun menolak untuk mengakuinya. Alih-alih mengakui, kita sering mengaitkannya dengan situasi-situasi tertentu sebagai bentuk pembenaran. Pembaca akan diajak berjalan-jalan ke dunia dongeng yang diciptakan oleh ‘Monster’. Harus diakui, cerita di dalam buku ini memang sangat kelam. Namun, Patrick Ness rupanya lihai menjadikan buku ini tetap indah dan sarat makna untuk dinikmati. Secara genre buku ini memang lebih ditujukkan untuk anak-anak dan remaja. Setelah membaca buku ini anak-anak akan belajar bagaimana menghadapi sebuah kenyataan.  Menarik makna positif dari cerita, tidak ada salahnya orang dewasa untuk ikut membacanya karena kenyataannya masih banyak orang dewasa yang bersikap kekanakan dengan susah move on di dalam hidupnya. Well, mengenai berhasil atau tidaknya menerima kenyataan hidup mungkin tidak akan instan, tetapi membaca buku ini akan lebih menambah empati yang membacanya.

FEATURED IMAGE BY MICHAEL WEIDNER FROM UNSPLASH

#16 Anak-Anak Masa Lalu

image

Judul: Anak-anak Masa Lalu
Penulis: Damhuri Muhammad
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Cetak: 2015
Jenis: Paperback
ISBN 13: 9789791260466
Rating: 3,5/5

“Anak-Anak Masa Lalu” merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Damhuri Muhammad. Sebagian besar cerita di dalam buku ini sudah pernah dipublikasikan di berbagai media nasional selama kurun waktu 2009-2013.

Ada empat belas cerita pendek serta satu epilog di dalam buku ini. Seluruh cerita yang ditulis menjadikan pedesaan sebagai seting utama di setiap cerita-ceritanya, dimulai dari mitos-mitos yang diangkat, budaya berpikir hingga perilaku masyarakatnya. Buku dibuka dengan cerita berjudul “Reuni Dua Sejoli”, yakni yang menurut saya mengambil topik cinta yang tak sampai. Topik yang sama juga diangkat di dalam cerita “Dua rahasia, dua kematian” serta “Lelaki Ragi dan Perempuan Santan”, meskipun alasan tidak sampainya kasih di antara pasangan-pasangan tersebut diragamkan dengan bumbu ‘perjodohan’ serta ‘bibit-bebet-bobotnya’. Jika cinta yang tidak direstui tetap dipaksakan, “Ambai-ambai” serta “Orang-orang Larenjang” dapat menjadi saksi tertulis bagi mereka yang melanggar. Selain itu, penulis juga memasukkan tema-tema yang diangkat dari mitos pedesaan yang sempat ramai kira-kira sekitar tahun 60an. Mitos ritus pengorbanan kepala anak kecil untuk ditanam sebagai fondasi bangunan-bangunan tertuang dalam cerita “Anak-anak Masa Lalu” serta mitos manusia berkepala Anjing (serta sebaliknya) di dalam cerita “Tembiluk”. Ada pula tema terkait Korupsi yang disajikan di dalam cerpen “Rumah Amplop.” Kearifan masyarakat lokal pedesaan yang paling bermakna bagi saya tertuang di dalam kisah “Banun”, seorang wanita yang menjalani laku prihatin seumur hidupnya hingga ia dianggap sebagai seorang yang sangat kikir. Cerita-cerita di dalam buku ini sedikit banyak memang diakui penulis sering terinspirasi dari masa kecilnya ketika masih hidup di desa. Semuanya itu jelas terlihat dalam cerita “Luka Kecil di Jari Kelingking” dan “Kiduk Menggiring Bola.”

Saya sangat suka dengan gaya menulis Damhuri Muhammad, sangat ndeso. Menurut saya cerpen-cerpen di dalam buku ini nuansanya begitu sepi, kelam dan menyesakkan. Beberapa di dalamnya bahkan menurut saya sangat mengerikan 😅:'(. Beberapa cerita yang dikarang terinspirasi dari beberapa mitos yang pernah beliau dengar, terlebih mitos-mitos tersebut memgerikan. Bagi saya, mitos yang mengerikan menjadikan cerita tersebut berkali-kali lipat lebih menyeramkan dibandingkan cerita horor. Mungkin inilah penyebabnya saya memberi rating 3,5 pada buku ini. Saya terlalu lugu untuk bisa menjadikan mitos yang menyeramkan itu sebagai angin lalu. Well ya, Saya bukan penikmat cerita menyeramkan, meski sebenarnya punya kecenderungan untuk menikmati cerita-cerita yang pilu. Namun yang jelas perkenalan saya dengan buku cerpen ini membuat saya akan membaca karya-karya beliau lagi jika berkesempatan menemukan cerita yang beliau tulis ^^