keluarga

Ada satu kenyataan agak pahit yang baru kusadari ketika aku sudah dewasa. Lebih tepatnya ialah ketika waktuku kini menjadi lebih terbagi, antara harus menolong diri sendiri dan tetap menjaga kedekatan dengan keluargaku tersayang.

Friends come and go, but family is forever

Sejauh ini, pepatah di atas masih sangat berlaku untukku. Meski sudah menginjak usia hampir 30 tahun pun, aku tetap seorang anak dari ayah dan ibu serta kakak bagi kedua adikku (Ssstt, aku sengaja menua-nuakan sedikit usia, karena toh aku bakalan, insyaallah, mencapai usia 30). Sehari-hari aku memang harus bekerja untuk bertahan hidup di Jakarta. Meskipun demikian, aku senang dengan apa yang aku kerjakan, senang juga dengan dampak yang dapat selalu aku berikan dari jerih payahku. Memang sering juga aku mengeluh, tapi keluhanku hanya superfisial.

Hal terbaik bagiku saat ini adalah setiap kali aku pulang ke rumah. Saat kami sekeluarga dapat kembali berkumpul meskipun tidak banyak kata yang diucapkan satu sama lain. Melihat kehadiran mereka yang ada di depan mata saja membuat hati ini terasa begitu hangat, Inginnya sih, aku dan seluruh indraku ini dapat merekam dengan sangat sempurna mengenai apa yang ada di sekitarku saat itu. Aku merasa utuh dengan hanya hadir di antara mereka semua. Kalau disuruh memilih ingin liburan ke mana, untuk saat ini, bersama mereka saja sudah membuatku cukup. Aku memang sedang merencanakan liburan, tapi inginnya sih liburan di saat kita satu keluarga tidak sedang berkumpul.

Mungkin ini ya yang namanya, ‘apapun jadwalnya, keluarga tetap nomer satu!’ Biasanya yang seperti ini sulit sekali dipahami oleh mereka yang rasa memiliki di antara keluarga tidak begitu utuh. Aku juga baru menyadari kalau kedekatan keluargaku tergolong yang sempurna hanya beberapa tahun belakangan. Semenjak itu, aku ingin semakin menjaga dan melindungi hubungan ini sebaik yang aku bisa.

Tapi tentu saja aku sadar banget kalau dunia tidak bekerja seperti itu. Aku sadar jika aku tetap harus bersosialisasi di masyarakat. Untuk orang yang cenderung diam, sebenarnya aku punya porsi yang cukup besar untuk bersosialisasi. Kegiatanku selain bekerja terbilang cukup menguras tenaga. Aku sadar sosialisasi ini sebagai salah satu kunci untuk bertahan hidup di belantara Jakarta yang katanya cukup keras ini. Wkwk. Jika memang dikata cukup keras, ingin juga sih rasanya mengapresiasi diri karena sejauh ini dapat menjalaninya dengan baik selama kurang lebih tujuh tahun.

PHOTO BY GERMANE JAWS ON UNSPLASH

4 thoughts on “keluarga

  1. Sebagai orang yang pendiam aku juga merasakan hal yang sama. Sosialisasi dengan orang baru rasanya susah sekali. Dicap sombong sudah biasa. Padahal mah bukannya sombong, tapi memang sulit aja buat sosialisasi. Hihi.

    Like

    • Halo mbak Kimi, terima kasih sudah mampir *malah terharu. Aku juga seperti itu, pada dasarnya sih aku memang nyaman meskipun sendirian wkwk aku tergolong mudah bersosialisasi, tapi berbasa-basi itu rasanya capek sekali.

      Like

  2. Terus bereksperimen dan improvisasi dalam menjalani hidup, hindari keluh kesah meskipun berat dan sulit… berekspresi dengan menulis salah satu jalan yang sangat positif, pada saatnya kalau waktunya tiba akan datang kesadaran, ternyata ada yang maha menjalankan hidup dan yang maha hidup tidak pernah meninggalkan manusia yang menuju kepadaNya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply to Ranger Kimi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s