#6 Sampar

Judul: Sampar
Penulis: Albert Camus
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Rilis: 2013
Alih Bahasa: N.H. Dini

Saya sudah membaca buku ini hampir setahun yang lalu, tetapi belum sempat menuliskannya. Jadi, saya putuskan saja untuk menulis sekarang karena buku ini memang benar-benar bagus dan cocok banget menjadi rekomendasi bagi penyuka sastra awam seperti saya. Yah, secara kalau yang emang suka sastra pakai banget mah udah gak perlu direkomendasiin.

Cerita dituturkan oleh… seorang Narator tak bernama, yakni tepatnya ketika wabah Sampar tiba di kota Oran. Kejadian demi kejadian silih berganti sebelum wabah menyerang. Seorang dokter harus melepas kepergian istrinya yang sedang sakit keras untuk berobat dan beristirahat di pegunungan. Satu per satu tikus mati di kota Orang ditemukan, hingga lama-lama jumlah bangkai tikus semakin tak terhitung. Satu-satu laporan tentang orang-orang berpenyakit mematikan muncul, semakin lama semakin banyak, hingga dalam jangka waktu yang hanya dalam hitungan hari ribuan orang telah terenggut nyawanya.

Baru akhirnya ketika Sampar disebutkan di kalangan para ahli medis, kota yang semula masih dipenuhi aktivitas rutinnya yang biasa kini diselimuti dengan kengerian. Kota ditutup, orang-orang disekap di dalamnya. Yang di dalam tak boleh keluar, yang di luar pun harus dipaksa memahami konsekuensi jika mereka bersikeras kembali. Wabah sampar di kota Oran mengingatkan orang-orang akan wabah mematikan yang menghabiskan hampir sepertiga warga eropa di abad pertengahan. Sampar dapat membunuh penderitanya hanya dalam waktu hitungan hari. Berhadapan dengan ribuan penderita, dr. Rieux harus berpikir bagaimana caranya untuk menyembuhkan penderita sekaligus menyetop penyebaran sampar. Dokter ahli mana pun akan sulit menghadapi situasi seperti itu hingga hampir bisa dipastikan tak banyak hal yang dapat dilakukan oleh dr. Rieux. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya ialah mendiagnosis penyakit, menenangkan si sakit, dan memberlakukan aturan ketat di masyarakat untuk mencegah perluasan penularan penyakit.

Ada banyak sekali hal menarik di dalam buku ini. Yang pertama ialah tenang tokoh-tokohnya yang unik. Camus menggambarkan berbagai perilaku manusia ketika dihadapkan pada sampar, yakni dimulai dari dokter, para pengunjung kota, hingga seorang buron. Ada Grand, pegawai pemerintah berusia lima puluh tahunan, yang mempunyai kesibukan pribadi saat petang. Masalahnya ialah ia senang menulis, namun sikap perfeksionisnya membuatnya ia selalu menulis ulang tulisan yang sudah dibuatnya. Lambert, seorang wartawan pendatang. Ketika Sampar membuatnya terkunci di kota, ia berusaha sekuat tenaga agar bisa keluar dari kepungan sampar, dimulai dari usaha yang legal hingga yang ilegal. Selanjutnya Cottard, seorang buron yang merasa sampar justru menyembunyikanya dari kejaran para polisi.  Sebaliknya ada Tarrou, tokoh yang paling saya suka. Ia pintar dan sering sekali tersenyum. Masa lalu Tarrou membentuknya untuk menjadi seorang yang bersolidaritas tinggi. Meskipun seorang pendatang, ketika sampar telah diakui secara politik, Tarrou memilih terjun untuk menolong masyarakat dibandingkan berdiam diri membiarkan para tahanan penjara sebagai penertib kota. Baginya wabah sampar adalah tanggung jawab bersama. Apa yang menarik baginya ialah tentang keinginannya menjadi seorang Santo, meskipun ia sendiri tidak memercayai Tuhan.

Keunikan lainnya ialah ketika membaca buku ini, kita diajak berpikir untuk mengenal absurditas. Jadi ada filsafatnya gitu. Berhubung saya bukan orang yang pintar memahami filsafat, yang saya tangkap dari absurditas ini semacam,.. melakukan hal yang dapat dilakukan saat ini dengan sebaik-baiknya. Manusia sering dihadapkan oleh situasi-situasi aneh dan sulit.  Sementara di saat yang bersamaan, ada masalah di depan mata mereka. Akibat karena terlalu memikirkan masalah aneh nan sulit, mereka jadi sering tidak melihat masalah yang ada di depan mata meraka.

Keunikan ketiga ialah karena novel ini diterjemahkan oleh N.H Dini sehingga penuturannya sangat asik dan enak dibaca. Buku ini benar-benar bagus dan dijamin akan membuat yang membacanya menjadi emosional. Setidaknya ini yang saya rasakan setelah membaca selesai buku ini. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s