Pembangunan kota metropolitan baru di China

Ada sebuah pepatah dari China yang kurang lebih bunyinya seperti Yu Gong memindahkan pegunungan. Konon, alkisah diawali ketika seorang petani China bernama Yu Gong ingin memindahkan dua buah gunung yang menghalangi jalan menuju rumahnya. Meskipun kesulitan, ia terus bekerja keras untuk memindahkan gunung yang menghalangi pintu masuk menuju rumahnya hingga akhirnya benar-benar berhasil. Itulah mengapa pepatah tadi maknanya sama dengan peribahasa di mana ada keinginan, di sana ada jalan. Bertahun-tahun pepatah tersebut mendarah daging di diri masyarakat China. Lalu kini, seiring dengan perkembangan modern China yang begitu pesatnya, peribahasa petani Yu Gong nampaknya tidak akan cukup. Seperti biasanya, selalu ada kabar heboh dari negeri China. Baru-baru ini, sebuah perusahan kontruksi China berniat untuk meratakan 700 Gunung dan melahirkan kota Metropolitan di padang pasir, di kota Lanzhou.

Mountain-moving Project dipegang oleh perusahaan kontruksi terbesar ke dua China, the Nanjing-based China Pacific Construction Group, yang dikepalai oleh Yan Jiehe. Sebesar 130.000 hektar lahan di kota Lanzhou, beberapa kilometer dari ibu kota provinsi Gansu, akan diubah menjadi kota metropolitan. Di dalam laporannya, dibutuhkan dana sebesar £2.2bn atau sekitar Rp.33 triliun. Pembangunan kota ini telah disetujui pada tanggal 20 Agustus 2012 dan pembangunan dimulai sekitar Oktober akhir lalu. Pembangunan ini, konon, akan memberikan peningkatan GDP hingga sekitar 350 tiriliun pada tahun 2030 sehingga banyak pihak yang memberi dukungan pada rencana ini dan bahkan ikut menanamkan investasi.

Adapun proyek pembangunan kota metropolitan baru ini bukan berarti tidak mengalami kendala. Beberapa kritikus berkata bahwa kota Lanzhou tidak layak menjadi kota metropolitan baru. Sebuah survey yang dilakukan oleh WHO di 1.100 kota pada 91 negara menunjukkan bahwa kota Lanzhou menjadi kota dengan kondisi polusi udara terburuk di China. Menurut para kritikus tersebut, membangun sebuah kota metropolitan hendaknya dilakukan pada kota yang memang memiliki kemampuan untuk kembali memberi keuntungan negara.Apalagi, pasar real estate di China masih termasuk yang paling memiliki risiko tinggi.

Meskipun demikian, orang-orang yang pro terhadap pembangunan di Lanzhou meyakinkan jika pembangunan kota metropolitan di Lanzhou justru akan memberikan dampak yang baik untuk kota tersebut, yakni dari yang semula memiliki kondisi lingkungan yang buruk akan membaik. Menurut mereka, kondisi lingkungan Lanzhou pada dasarnya memang cenderung buruk akibat dari pegunungan yang tidak mampu menyimpan air. Pembangunan yang akan dilakukan di Lanzhou justru akan membantu daerah tersebut memperoleh air bersih, bahkan cukup untuk melakukan reboisasi daerah-daerah yang kering.

Bicara mengenai lingkungan, protokol Kyoto, sebagai satu-satunya protokol yang dapat mengikat seluruh negara di dunia untuk memerangi pemanasan global, akan diperpannjang hingga tahun 2020. Namun seperti yang telah diduga, negara-negara besar penyumbang gas rumah kaca, yakni Amerika, China, dan India, belum memberikan respon persetujuan mereka dengan jalan meratifikasinya. Kenyataan hingga saat ini, belum ada kesepakatan emisi yang ditetapkan teruntuk negara-negara penyumbang terbesar. Tanggung jawab sosial negara-negara kaya untuk membantu daerah-daerah yang paling banyak terkena dampak pemanasan global pun masih belum lancar. Lalu, jika dibandingkan dengan pembangunan besar yang kembali akan dilakukan oleh China, meskipun pembangunan tersebut diaku sebagai pembangunan yang akan memperhatikan aspek-aspek lingkungan karena dianggap memperhatikan konsep ‘pembangunan yang berkelanjutan’ atau sustainable development, memang perlu sekali China memperhitungkan dampak-dampaknya, bukan hanya di dalam skala lokal, melainkan juga skala global.

Tulisan ini diterjemahkan dan ditambah dari berbagai artikel, satu yang paling banyak berperan ialah artikel dari Guardian.

3 thoughts on “Pembangunan kota metropolitan baru di China

    • tuh kan, memang hebat mereka. hampir di semua aspek ya. satu-satunya yang disayangkan, sejak awal, memang China menjadi salah satu yang terbesar penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia.

      Like

  1. Zheng He memimpin konvoi kapal 7 kali turun ke samudera barat, berturut-turut telah mengunjungi 30 negara lebih di Asia dan Afrika, terjauh yang dicapainya adalah pantai timur A-frika sebelah selatan khatulistiwa dan Ma Lin Di (Kenya) dan Mombassa (kini pelabuhan Mombassa dari Kenya), ini adalah kejadian besar dalam sejarah pengarungan samudera dunia.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s