Thirteen Reasons Why

Judul : Th1rteen R3asons Why

Penulis: Jay Asher

Terbit : 2007

Halaman (versi free pdf.): 158

“I hope you’re ready, because I’m about to tell you the story of my life. More specifically, why my life ended. And if you’re listening to these tapes, you’re one of the reasons why.”

Apa yang Anda lakukan jika tiba-tiba, sebuah paket berisi tujuh buat kaset dikirim oleh seseorang yang telah meninggal dua minggu lalu. Thirteen Resons Why berkisah tentang pesan seorang remaja bernama Hannah Baker, sebelum akhirnya ia membunuh dirinya sendiri. Ada tiga belas alasan, yang di sini diceritakan bahwa ada tiga belas orang, yang menyebabkannya memutuskan untuk bunuh diri. Semua alasan tersebut ia rekam dalam ketujuh kaset yang ia kirim secara beruntun, berurut dari orang pertama hingga orang ke tiga belas.

Kisah berawal ketika seorang remaja bernama Clay Jensen, menemukan paket berisi kaset rekaman yang ditujukan padanya. Ia harus terkejut ketika mendapati bahwa kaset tersebut dikirim oleh temannya sekaligus gadis yang dicintainya, Hannah Baker, yang dua minggu sebelumnya ditemukan tewas bunuh diri. Terlebih, Clay menjadi salah satu orang yang menyebabkan gadis yang dicintainya bunuh diri. Sebenarnya apa yang Clay lakukan? Beberapa waktu sebelumnya, Clay telah menerima kiriman sebuah peta yang ternyata merupakan bagian dari rencana Hannah untuk menceritakan kekalutannya yang menyebabkan dirinya memutuskan bunuh diri.

Hal paling menarik dari dalam buku ini ialah bagaimana sang penulis menuturkan cerita, yakni bukan melalui dialog antartokoh seperti pada kebanyakan novel lainnya, melainkan memadukan kata-kata Hannah yang direkam di dalam kaset dengan ungkapan batin Clay yang menanggapi setiap kata-kata Hannah.

“Everything…affects everything”

Perilaku dari beberapa (dari ketigabelas yang terdaftar) orang yang dituduh Hannah sebagai penyebab kematiannya sebenarnya begitu kecil, namun sangat mempengaruhi jalan hidupnya. Meskipun dipandang sangat subjektif, apa yang dirasakan Hannah merupakan akumulasi dari berbagai peristiwa hingga membuatnya memutuskan bunuh diri. Buku ini menyampaikan suatu pesan moral bahwa hal sekecil apapun dapat mempengaruhi hidup orang sehingga tidak ada alasan untuk selalu berhati-hati setiap kali bersikap. Bisa jadi, tindakan kecil yang kita lakukan justru ternyata sangat menyakitkan orang lain.

“Maybe you didn’t know what people thought of you because they themselves didn’t know what they thought of you. Maybe you didn’t give us enough to go on, Hannah.”

Di akhir, terlihat bahwa mengakhiri hidup adalah sebuah pilihan, dan Hannah memilih opsi itu untuk mengakhiri penderitaan hidupnya. Malang sekali, padahal jika ia dapat lebih melihat hidup dari sisi yang berbeda, ia bisa saja mendapatkan kehidupan yang lebih menyenangkan di kemudian hari. Hannah mempersalahkan orang di sekitarnya dan melihat bahwa tidak ada orang yang bahkan dapat menghalanginya untuk bunuh diri. Padahal, kenyataannya Clay ada di sana dan siap membantu. Sayangnya, sekali lagi, Hannah memilih untuk melihat hidupnya sebagai sesuatu yang pantas untuk segera diakhiri.

Ngomong-ngomong, buku ini memperoleh banyak sekali penghargaan dari tempat negaranya berasal. Buku ini memperoleh best seller New York Times Best Seller  dan Publishers Weekly, serta menjadi pemenang California Book Award. Selain itu, thirteen reasons why juga menjadi pemenang dalam kategori Best Books for Young AdultsQuick Picks for Reluctant YA Readers, Quick Picks for Reluctant YA Readers, dan Selected Audiobooks for Young Adults versi YALSA, lalu 10 buku remaja terbaik dalam penghargaan Barnes & Noble, serta masih banyak penghargaan lainnya.

Post skriptum: Stres yang membahayakan

Membaca buku ini, saya benar-benar menyadari bahwa keadaan psikologis manusia begitu kuat dalam mempengaruhi hidup. Terlebih, yang ingin saya bicarakan di sini ialah perihal terkanan yang berakibat stres. Beberapa waktu yang lalu, seorang profesor di tempat saya kuliah berkata bahwa ada seorang bergelar doktor yang memprotes karena tidak dimasukannya ‘stres’ ke dalam Millenium Development Goals (MDGS). Stres ialah keadaan yang dapat menyebabkan baik sakit fisik, maupun psikis. Keduanya sama-sama membahayakan. Jika dipikir-pikir, benar kata profesor saya, seharusnya stres memang dimasukkan ke dalam MDGS. Pasalnya, selama ini masih sedikit masyarakat yang memperhitungkan stress sebagai faktor yang dapat memanifestasi banyak penyakit sehingga perlu untuk dilegalkan secara tertulis agar dapat lebih mudah menyadarkannya orang-orang.

Saya membaca buku ini versi bahasa Inggris dalam format pdf. Buku ini sudah terbit versi Indonesia-nya pada Oktober 2011 yang lalu. Sila cari di toko-toko buku terdekat, saya juga ingin membaca yang bersi Indonesianya mengingat bahasa Inggris saya yang bahkan sampai sekarang masih pas-pasan T^T

*pemuatan ulang resensi di blog buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s